deskripsi gambar

DPRD Medan dan Orang Tua Pasien Ungkap Pasien Unregister di RSUD Pirngadi


Team Sergap News.com






Medan _ Wakil Ketua Komisi II DPRD Medan, Sudari tegur Direktur Pirngadi terkait pasien Unregister yang tidak dilayani dengan baik. "Itu terkadang yang pasien Unregister bilang ke saya harus dipanjar dulu sekitar Rp 700 ribu sampai jutaan. Setelah dibilang nama saya baru dikembalikan. Lah, kenapa seperti ini pak," kata Sudari kepada Direktur Pirngadi saat RDP soal bayi dicovidkan di Kantor DPRD Medan, Senin (28/6).
Menurutnya, persoalan tersebut menjadi catatan penting bagi RSUD Pirngadi. Ia yakini Direktur RSUD Pirngadi Suryadi Panjaitan punya niat baik untuk memperbaiki rumah sakit pemerintah tersebut. "Makanya ini mau R APBD, jadi datanglah nanti kemari dengan bisnis plan yang jelas Pirngadi mau dibawa kemana. Itu kan dikasih kebebasan untuk bekerjasama dengan pihak mana pun," sebutnya.
Sudari pun mengatakan ingin tahu nasib ke depan pasien Unregister. Karena berdasarkan peraturan walikota hanya dibiayai untuk opname saja. "Kenapa dulu tidak dikritik, kok kek gini perwalnya? Orang biasanya habis opname mau kontrol dan itu terpaksa bayar sendiri. Kenapa seperti ini? Itu akhirnya Pirngadi mengakali. Nah itu coba diperhatikan," ungkapnya.
Padahal warga yang statusnya Unregister berada dalam garis yang tidak mampu. Ia pun minta Suryadi untuk memberikan masukan untuk jalan keluar dari persoalan tersebut ke depannya.
Pernyataan Sudari itu pun disambung oleh orang tua bayi yang dicovidkan, Annisa bahwa pihaknya juga diminta uang untuk mendapatkan rekam medis. "Jadi sebelum pulang, kami meminta rekam medis ke RSUD Pringadi. Tujuannya untuk membawa anak saya pindah ke rumah sakit lain. Esoknya, suami saya datang. Itu susternya bilang harus ada ditinggal jaminan untuk salinan rekam medis," sebutnya.
"Jaminannya KTP, KK, dan untuk dapat rekam medis bayar Rp 2,5 juta. Lalu saya konsultasi ke pak Rajudin yang bilang jangan ada tinggalkan berkas apapun kalau memang tidak dikasih," lanjutnya.
Walhasil, rekam medis itu pun tidak didapatkannya. Padahal anaknya mau dipindahkan ke rumah sakit lain. Terakhir, sebelum dipindahkan ke rumah sakit lain rupanya bayinya telah meninggal dunia.
Kejadian serupa rupanya juga dialami oleh pasien bernama Rehan yang mau operasi usus buntu. Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Medan, Rajudin Sagala bahwa sempat dimintai uang.
Menanggapi beragam kejadian tersebut, Rajudin pun minta RSUD Pirngadi segera menindak para oknum yang ada. Menurutnya RSUD Pirngadi harus segera diperbaiki pelayanannya dan dibersihkan dari oknum tersebut. (Nelly)
Share on Google Plus

About JurnalisTeamSergapIndonesia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.